Beberapa Fakta Menarik Tentang Suriah

Tujuan AS adalah “regime change” di Suriah

Sejak awal, tujuan campur tangan AS di Suriah adalah pergantian rezim alias penggulingan Assad. Tidak mengherankan, AS punya andil besar dalam menciptakan perang sipil di Suriah. AS juga yang paling getol memblokir setiap upaya perundingan damai di negara berpenduduk 24 juta jiwa itu.

AS menyokong oposisi dan kelompok Jihadis di Suriah

Ketika Arab Spring menggelinding di timur tengah, AS terlibat mendorong situasi serupa di Suriah. Tetapi oposisi jalanan tidak berjalan sukses. Akhirnya, AS mendorong perjuangan bersenjata. AS turut membantu lahirnya Tentara Pembebasan Suriah/Free Syrian Army (FSA), termasuk memberi pelatihan, persenjataan, dan sokongan pendanaan.

Bahkan, untuk memperhebat serangan terhadap rezim Assad, AS menyokong kelompok-kelompok jihadis di Suriah. Termasuk Jabhat al-Nusra, yang berafiliasi dengan Al-Qaida (baca di sini). “Salafis, Ikhwanul Muslimin, dan Aqi (Al-Qaeda) adalah kekuatan utama untuk mendorong pemberontakan di Suriah,” demikian bunyi Memo Departemen Pertahanan AS pada Agustus 2012.

Bocoran Wikileaks berulangkali membongkar persekongkolan AS, Isral, Turki dan sekutu teluk (Saudi Arabia, Qatar, dll) dalam usaha menggulingkan Assad. Makanya jangan heran, AS tidak pernah serius menggempur ISIS. Malahan, dengan dalih menyerbu ISIS, pesawat-pesawat tempur AS justru menghajar tentara Suriah dan Rusia.

Serangan AS membunuh banyak warga sipil Suriah

Tanpa mengurangi keprihatinan terhadap korban serangan senjata kimia (kalau memang ada), tetapi serangan koalisi yang dipimpin AS telah membunuh banyak warga sipil di Suriah. Menurut data Airwars, sebuah lembaga monitoring berbasis di Inggris, untuk bulan Maret 2017 saja, jumlah warga sipil yang tewas akibat serangan koalisi pimpinan AS di Suriah dan Irak mencapai 1.472 orang.

Sedangkan sepanjang Agustus 2014 hingga Maret 2017, jumlahnya mencapai 2.831 orang. Jadi, tidak peduli dengan senjata apa orang dibunuh, intervensi militer AS di Suriah telah membawa banyak kematian. Saya kira, nurani kemanusiaan manapaun tidak akan mentolerir pembunuhan manusia dengan cara apapuan dan senjata apapun.

Bashar Al-Assad masih mendapat dukungan kuat dari rakyatnya

Satu hal yang diabaikan oleh media-media barat adalah bahwa pemerintahan Bashar Al-Assad masih mendapat dukungan kuat dari rakyatnya. Sebuah jajak pendapat yang diselenggarakan oleh YouGov Siraj di Suriah menyebutkan, 55 persen warga Suriah menginginkan Bashar Al-Assad tetap berkuasa. Dan terbukti, pada Pemilu Presiden 2014 lalu, Bashar Al-Assad menang mutlak dengan perolehan 88,7 persen suara. Sedangkan dua penantangnya hanya mendapat 7 persen suara.